Pages

Saturday, 22 March 2014

The Liverpool Way

Jujur aja ya, saya sebenernya juga bingung jalan macam apa itu "The Liverpool Way."

Berdasarkan sejarah, waktu jaman Opa Shankly masih jadi manajer, The Liverpool Way is more like a winning way. Masuk era EPL trophy-less, The Liverpool Way menjadi 'sabar dan tetap setia mendukung Liverpool apa pun yang terjadi.' Sekarang sih, jamannya Brendan Rodgers, agaknya The Liverpool Way jadi macam 'English Tiki-Taka; you can dream now but keep it low.'

Ah, seperti apa pun bentuknya, saya tetap akan menapaki jalan setapak berjudul "The Liverpool Way" itu.

Ups, kayaknya bukan jalan setapak ya, lebih mirip jalan tol, soalnya yang ikutan jalan di Liverpool Way itu ratusan juta :)

You're not walking alone, ever!


Thursday, 6 March 2014

Manfaat Liverpool FC bagiku

I follow Liverpool religiously. (Of course not. That's a lie.) Oke, maksudnya, saya suporter setia Liverpool sejak tujuh tahun lalu. Prestasi Liverpool dalam satu dekade belakangan bisa dibilang consistently inconsistent (Ha! Another oxymoron!). Puncak prestasi kami adalah juara Liga Champions 2005 lewat final yang dramatis, menegangkan, dan akan dikenang sepanjang masa. Selain itu, piala yang berhasil digaet hanya Piala FA 2006 dan, terakhir, Piala Liga 2012. Meski demikian, sekali Liverpool, tetap Liverpool. Saya bangga mendukung klub yang punya tradisi kuat ini.

Nah, sekarang mari berpikir secara umum. Olahraga itu termasuk jenis hiburan. Dibanding isu-isu kemiskinan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan, olahraga jelas terhitung tidak penting. Buat apa sih nonton bola tiap minggu? Jor-joran mengeluarkan uang untuk membayar gaji pemain bola? Lebih baik uangnya dipakai untuk ngasih makan orang-orang kelaparan di negara tertinggal. Lebih baik uangnya dipakai untuk membantu para pengungsi di negara yang sedang dalam situasi perang. Saya yakin kalau gaji Wayne Rooney diakumulasi dari awal kariernya sampai sekarang, pasti sudah bisa membangun ribuan sekolah untuk anak-anak di daerah terpencil. Sepakat? Tentu saja hiburan juga ada manfaatnya. Seenggaknya bisa untuk refreshing dari kepenatan isu dunia. Tetapi saya tetap tidak setuju kalau gaji dan uang transfer satu orang pemain bola jatuh di angka milyaran per tahun.

Menurut saya sih, sebaiknya para penguasa di bidang olahraga duduk bersama dan mendiskusikan kepantasan gaji dan biaya yang harus dikeluarkan untuk sepakbola.

Oke, sepertinya kita sudah tangensial dari judulnya. Let me spiral back to it.

Jadi, meski saya percaya bahwa olahraga secara general itu overrated, tak bisa dipungkiri bahwa menjadi pendukung Liverpool banyak manfaatnya bagi saya pribadi. Entah kenapa kepikiran hal beginian tengah malam, padahal itu deadline skripsi udah di depan mata. (Haha, kebiasaan). So, here's a list of how Liverpool has benefit my life:

  1. Disiplin itu penting kalau mau sukses. Brendan Rodgers sukses menanamkan disiplin ke diri pemain-pemain muda Liverpool. Contoh yang nyata adalah Raheem Sterling. Bocah ini sensasional pada awal karirnya di usia 17 tahun. Tetapi setelah itu, performanya sempat melorot dan banyak berita-berita nggak penting macam tuduhan penganiayaan kepada Sterling. Musim ini, kurva performa Sterling meningkat baik. Terakhir dia dipilih sebagai MOTM pada pertandingan Inggris vs Denmark. Tentu saja itu nggak lepas dari model latihan dan perlakuan Brendan pada pemainnya itu.
  2. Determinasi dan niat yang kuat. Waktu Brendan ditunjuk jadi manager musim lalu, dia sempat mempersilakan Jordan Henderson keluar dari tim kalau mau karena performanya nggak memuaskan untuk pemain dengan biaya transfer sebesar itu. Henderson menolak menyerah dan memutuskan bertahan di Liverpool meski harus bersaing ketat dengan midfielders lainnya kalau mau dapat tempat di skuad utama. Sekarang, semua pengamat sepak bola setuju bahwa Henderson menunjukkan energi luar biasa di lapangan. Musim ini, Henderson jadi starter di semua pertandingan di Liga. Pretty impressive, huh?
  3. Latihan, latihan, dan latihan! Mana ada pemain yang bisa sukses tanpa latihan yang serius? Bahkan pemain sekaliber Messi yang bakatnya udah luar biasa aja nggak mungkin sukses kalau tidak latihan serius. Henderson dan Suarez juga salah satu dari pemain yang benar-benar semangat dalam latihan. Kedua pemain kesayangan supporter itu selalu jadi pemain yang keluar terakhir saat latihan, karena mereka suka berlatih tambahan setelah sesi usai. Begitu juga kalau belajar. Ilmu harus diulang-ulang, latihan ketemu pasien harus serius dikerjakan. Malas-malasan saat jaga bukan pilihan yang tepat. 
  4. Jangan pedulikan rumor dan gosip dari orang-orang. Kalau Suarez terlalu banyak dengerin omongan negatif media dan supporter, yakinlah bahwa dia pasti sudah meledak dari kemarin-kemarin. Bete dan terus minder? Lebih baik tunjukkan saja pada orang-orang itu bahwa kamu bisa. 
  5. Dengarkan nasihat orang yang lebih berpengalaman, lebih paham dan, terutama, orang yang peduli denganmu. Steven Gerrard sudah lama jadi panutan bagi pemain-pemain Liverpool. Gerrard waktu muda juga tidak lalai mendengarkan nasihat orang lain. Kalau bukan karena pengaruh Gerard Houllier, karir Gerrard pasti nggak akan selegit ini.
  6. Be Creative! Brendan lagi-lagi menunjukkan kejeniusannya dalam hal kreasi. Lelah dengan model latihan biasa, Brendan dan head coach Colin Pascoe memberikan model latihan yang berbeda yaitu semacam gabungan dari sepak takraw dan bola voli. Bosan dengan aktivitas begitu-begitu saja? Buat aktivitas biasa itu jadi menyenangkan dengan mencoba hal-hal baru. 
  7. Kerjasama tim dan saling pengertian itu penting. Tentu saja kalau bukan karena kerja tim yang apik, Liverpool nggak akan membuat 70 gol musim ini. Saling mengerti pergerakan kawan, saling paham kekuatan dan kelemahannya, itulah kunci kerjasama. Begitu juga dalam kerja tim di IGD. Kalo ada pasien henti jantung, yakinlah kau nggak akan mampu menolongnya kalau kau sendirian!
  8. Ketahui kelemahan dan kekuatanmu. Henderson tahu dia masih kurang ahli dalam shooting, maka dia melatih shooting-nya dengan rajin. Dia juga tahu bahwa dia punya tenaga semacam kuda, maka dia keluarkan segenap tenaga itu saat bertanding. 
  9. Menjadi setia itu berat, tetapi rasanya manis. Kami pendukung Liverpool setia menunggu gelar Premier League ke-19, meski sudah lebih dari 20 tahun Liverpool tidak menang. Kami tahu, kalau nanti berhasil, rasanya akan semanis madu. 
  10. Never stop believing. Steven Gerrard cs. tidak berhenti saat Liverpool kalah 0-3 dari AC Milan pada final paling kece sepanjang sejarah Champions League. Mana ada yang nebak kalau Liverpool akhirnya bisa menang saat adu penalti? Well, Gerrard knew it!
Yep. Liverpool has definitely been one of the most important part of my life. We Love You, Liverpool, We Do!

(sekarang mari lanjutkan skripsi...)

Wednesday, 29 January 2014

Air

Kolam kecil di hadapanku
Koi-koi warna-warni
Air
Gemericik jatuh dari ketinggian

(Puisi ini jelek sekali)

Monday, 6 January 2014

Relaksasi

Selamat malam, sahabatku...
Duduklah tegak, jatuhkanlah kedua lenganmu di kedua sisi tubuhmu
Rasakanlah ikat-ikat ototmu mengendur
Rileks... lepaskan seluruh kelelahan fisik yang kamu rasa

Sekarang tariklah nafas dalam-dalam
Pelan-pelan
Hitunglah bersamaku
Satu, dua, tiga, empat...
Lalu hembuskan udara dari paru-parumu
Bayangkan titik-titik udara itu membawa pergi penatmu

Sudah enak?

Kau rasakan benakmu kosong
Kau rasakan hatimu tenang
Rasakanlah kejujuran menyesapi relung jiwamu
Hanya itu yang kauperlukan kali ini: kejujuranmu
Jujurlah ketika kau membaca lanjutan dari puisi ini

Berapa kali salatmu bolong hari ini?

Berapa hari sudah Quranmu kauabaikan?

Berapa lama waktu berlalu sejak terakhir kau sebut nama Dia?

Oh, tubuhmu bergerak gelisah
Tidak nyaman, ya?
Untunglah kau masih bisa merasa tidak nyaman
Mungkin hatimu tidak segelap yang kamu kira

(Kau mau berhenti?
Boleh saja, tak ada paksaan)

Omong-omong,
Jawabanmu tak perlu ditulis di kertas
Tidak akan ada yang menilainya kecuali kamu
Ini bukan ujian, kok.

Tarik nafasmu dalam-dalam sekali lagi
Biarkan saja air mata itu mengalir kalau perlu

Dimana kamu waktu Dia Memanggilmu sore tadi?

Dimana kamu waktu Dia Kirimkan malaikat subuh untuk membangunkanmu dari mimpi?

Dimana kamu waktu rumah-Nya--yang nyaris tak pernah lagi ramai--mengundangmu datang?

Oh, jangan kaututup matamu, sahabatku
Jangan kau kekap telingamu dengan kedua tangan itu
Mata dan telinga hatimu tetap bisa menjawabnya, bukan?

Buang nafas dalam yang kau tahan itu
Buang semuanya
Bayangkan semua dosamu terbuang oleh nafas itu
Hitung bersamaku...

Tahun-tahun yang sudah berlalu, biarlah sudah
Tetapi jangan biarkan tahun-tahun berikutnya berlalu begitu saja
Waktumu--waktuku , waktu kita--terbatas, kawan
Bumi ini sudah tak semuda yang kau bayangkan

Pejamkan matamu sekali lagi
Sekali lagi
Rasakan penyesalanmu saat ini membanjiri tubuhmu
Sampai ke ujung-ujung jarimu
Biarkan setiap inci tubuhmu mengenali dan mengingat penyesalan ini
Supaya mudah mereka memanggil kembali ingatan itu di masa depan

Pejamkan matamu, cobalah untuk rileks...
Bayangkan setiap tahap dalam hidupmu yang telah berhasil kau lalui
Setiap hal kecil yang mungkin belum kau syukuri
Bayangkan nikmatnya es krim cokelat, indahnya matahari terbit di pegunungan, harumnya aroma sabun Ibu yang kau sayangi
Kalikan kenikmatan itu dengan tak terhingga
Dan kau mungkin bisa dapatkan bayangan kecil nikmat surga-Nya

Masih ada waktu, sahabatku
(Semoga saja)

Friday, 3 January 2014

Teori Bawang

“Orang dewasa itu mirip bawang,” katamu suatu sore ketika kau dan aku sedang duduk di kedai kopi dengan buku-buku bertebaran di meja kita. Aku tidak terusik, terlalu asyik menulis-nulis puisi baru di selembar tisu.

“Aku bilang, orang dewasa itu mirip bawang. Iya kan?” ulangmu sekali lagi.

“Hm?”

Kau menendang tulang keringku di bawah meja.

“Aduh!”

“Kalau orang ngomong dengerin, dong!” tegurmu, bete.

Aku mengelus-elus kaki yang kautendang. Menjulurkan lidah dan membuat wajah meledek. Kau dan temperamenmu itu! Matamu masih memelototiku. Aku mendesah. Yah... mari kita dengarkan teori yang baru kaubentuk di kepalamu...

“Iya, aku dengerin,” sahutku. “Bawang kenapa?”

Dadamu mengembang saat kau menarik nafas dalam. Lalu kau memulai retorikamu.

“Kamu tahu bawang kan?” tanyamu retoris.

“Bulat, bau, merah, putih, hijau kan?” aku buru-buru menjawab—walau aku paham esensi dari retorika adalah tidak perlu dijawab.

“Tepat. Tapi kurang satu lagi.”

“Apa? Bawang bombay?”

“Bukan! Satu karakteristik lagi dari bawang yang belum kamu sebut.”

“Apa sih? Rasanya nggak enak?”

Kamu kelihatan sebal. Dalam hati aku cekikik geli.

“Lapisannya! Bawang punya banyak lapisan kan? Tipis-tipis dan hampir nggak bisa dibedakan lapisan satu dengan lapisan di bawahnya?” kamu berseru bersemangat.

Aku mengangguk-angguk sotoy.

“Nah, orang dewasa itu persis seperti itu. Berlapis. Lapisan di atasnya hampir nggak bisa dibedakan, tapi lapisan luar dan lapisan dalam jelas berbeda. Ngerti kau?” jelasmu sok pintar. Aku mengangguk-angguk lagi.

“Orang dewasa itu, apa yang kelihatan di luar beda dari yang di dalam. Makin kamu berusaha kenal seseorang, makin kamu sadar bahwa ada banyak hal yang dia sembunyikan di dalam.”

“Oke, cukup masuk akal,” jawabku. Kau diam saja beberapa saat, seperti yang selalu kau lakukan kalau ingin sesuatu masuk menembus tengkorakku yang katamu lebih tebal dari tembok beton
.
“Kau tahu apa yang paling menyebalkan dari bawang?” tanyamu sementara kepalaku masih setengah memroses ocehanmu sebelumnya.

“Hm?”

“Saat mengupas bawang, mata dan hidungmu akan terasa perih sampai kau menangis. Semakin lama kau mengupas, makin perih juga rasanya. Bayangkan kalau manusia itu bawang. Semakin lama kau mengupas orang itu, semakin perih juga rasanya,” jelasmu lagi.

“Terus?”

Ngerti kan? Dengan kata lain, kalau kamu ingin mengenal seseorang—benar-benar mengenalnya—kamu harus siap-siap terluka,” kau mengakhiri pidatomu dengan nada final yang dramatis.

Selama dua menit penuh kita duduk diam, masing-masing terhanyut dalam pikiran sendiri. Kau menatap langit yang membiru cerah di balik jendela kedai kopi kecil itu. Kurasa teorimu itu tidak sempurna. Masih banyak lubang di jahitannya. Tetapi seperti biasa, aku bisu saja, demi keutuhan ujung-ujung jariku.

Kau kembali menekuni buku matematikamu. Aku membaca ulang puisi setengah jadi yang kucoretkan di tisu. Puisi yang jelek. Dengan segera selembar tisu itu berubah menjadi segumpal bola putih yang permukaannya tidak rata.

“Tahu nggak?” ujarku sejurus kemudian, mengambil ancang-ancang untuk melempar bola tisu itu ke hidungmu.

“Apa?”

“Daripada dikupas, lebih baik kau cincang saja bawangnya. Pakai pisau.”

Dan bola tisu jelek itu membentur tepat di antara kedua matamu.
***

Diselesaikan di Menteng, Jakarta, 3 Januari 2014 pukul 20:16.

Saturday, 7 December 2013

Aku mau

Aku resah
Aku gelisah
Aku ingin marah
Aku ingin menangis
Aku ingin berlari sejauh-jauhnya
Ke Alaska
Ke Antartika
Ke ujung dunia
Aku mau nafasku habis
Aku mau terengah-engah
Aku mau tubuhku sakit!

Aku mau lepas
Aku mau terbang
Aku mau jatuh dari ketinggian
Aku mau menyelam ke pedalaman
Aku mau mati

Aku mau hidup kembali
Dari abu pembakaran yang kau sebar dari puncak bukit langit
Aku mau dunia baru
Aku mau langit baru
Tanah berpijak yang baru
Pelangi yang baru

Aku mau hati yang baru

Thursday, 5 December 2013

The Playlist


  1. Stardust [Nat King Cole]
  2. Misty [Ella Fitzgerald]
  3. The Way We Were [Barbra Streissand]
  4. Come Away With Me [Norah Jones]
  5. Moon River [Frank Sinatra]
  6. Lately [Stevie Wonder]
  7. A Love That Will Last [Renee Olstead]