“Orang dewasa itu mirip bawang,” katamu suatu sore ketika kau dan aku sedang duduk di kedai kopi dengan buku-buku bertebaran di meja kita. Aku tidak terusik, terlalu asyik menulis-nulis puisi baru di selembar tisu.
“Aku bilang, orang dewasa itu mirip bawang. Iya kan?” ulangmu sekali lagi.
“Hm?”
Kau menendang tulang keringku di bawah meja.
“Aduh!”
“Kalau orang ngomong dengerin, dong!” tegurmu, bete.
Aku mengelus-elus kaki yang kautendang. Menjulurkan lidah dan membuat wajah meledek. Kau dan temperamenmu itu! Matamu masih memelototiku. Aku mendesah. Yah... mari kita dengarkan teori yang baru kaubentuk di kepalamu...
“Iya, aku dengerin,” sahutku. “Bawang kenapa?”
Dadamu mengembang saat kau menarik nafas dalam. Lalu kau memulai retorikamu.
“Kamu tahu bawang kan?” tanyamu retoris.
“Bulat, bau, merah, putih, hijau kan?” aku buru-buru menjawab—walau aku paham esensi dari retorika adalah tidak perlu dijawab.
“Tepat. Tapi kurang satu lagi.”
“Apa? Bawang bombay?”
“Bukan! Satu karakteristik lagi dari bawang yang belum kamu sebut.”
“Apa sih? Rasanya nggak enak?”
Kamu kelihatan sebal. Dalam hati aku cekikik geli.
“Lapisannya! Bawang punya banyak lapisan kan? Tipis-tipis dan hampir nggak bisa dibedakan lapisan satu dengan lapisan di bawahnya?” kamu berseru bersemangat.
Aku mengangguk-angguk sotoy.
“Nah, orang dewasa itu persis seperti itu. Berlapis. Lapisan di atasnya hampir nggak bisa dibedakan, tapi lapisan luar dan lapisan dalam jelas berbeda. Ngerti kau?” jelasmu sok pintar. Aku mengangguk-angguk lagi.
“Orang dewasa itu, apa yang kelihatan di luar beda dari yang di dalam. Makin kamu berusaha kenal seseorang, makin kamu sadar bahwa ada banyak hal yang dia sembunyikan di dalam.”
“Oke, cukup masuk akal,” jawabku. Kau diam saja beberapa saat, seperti yang selalu kau lakukan kalau ingin sesuatu masuk menembus tengkorakku yang katamu lebih tebal dari tembok beton
.
“Kau tahu apa yang paling menyebalkan dari bawang?” tanyamu sementara kepalaku masih setengah memroses ocehanmu sebelumnya.
“Hm?”
“Saat mengupas bawang, mata dan hidungmu akan terasa perih sampai kau menangis. Semakin lama kau mengupas, makin perih juga rasanya. Bayangkan kalau manusia itu bawang. Semakin lama kau mengupas orang itu, semakin perih juga rasanya,” jelasmu lagi.
“Terus?”
“Ngerti kan? Dengan kata lain, kalau kamu ingin mengenal seseorang—benar-benar mengenalnya—kamu harus siap-siap terluka,” kau mengakhiri pidatomu dengan nada final yang dramatis.
Selama dua menit penuh kita duduk diam, masing-masing terhanyut dalam pikiran sendiri. Kau menatap langit yang membiru cerah di balik jendela kedai kopi kecil itu. Kurasa teorimu itu tidak sempurna. Masih banyak lubang di jahitannya. Tetapi seperti biasa, aku bisu saja, demi keutuhan ujung-ujung jariku.
Kau kembali menekuni buku matematikamu. Aku membaca ulang puisi setengah jadi yang kucoretkan di tisu. Puisi yang jelek. Dengan segera selembar tisu itu berubah menjadi segumpal bola putih yang permukaannya tidak rata.
“Tahu nggak?” ujarku sejurus kemudian, mengambil ancang-ancang untuk melempar bola tisu itu ke hidungmu.
“Apa?”
“Daripada dikupas, lebih baik kau cincang saja bawangnya. Pakai pisau.”
Dan bola tisu jelek itu membentur tepat di antara kedua matamu.
***
Diselesaikan di Menteng, Jakarta, 3 Januari 2014 pukul 20:16.
No comments:
Post a Comment