Selamat malam, sahabatku...
Duduklah tegak, jatuhkanlah kedua lenganmu di kedua sisi tubuhmu
Rasakanlah ikat-ikat ototmu mengendur
Rileks... lepaskan seluruh kelelahan fisik yang kamu rasa
Sekarang tariklah nafas dalam-dalam
Pelan-pelan
Hitunglah bersamaku
Satu, dua, tiga, empat...
Lalu hembuskan udara dari paru-parumu
Bayangkan titik-titik udara itu membawa pergi penatmu
Sudah enak?
Kau rasakan benakmu kosong
Kau rasakan hatimu tenang
Rasakanlah kejujuran menyesapi relung jiwamu
Hanya itu yang kauperlukan kali ini: kejujuranmu
Jujurlah ketika kau membaca lanjutan dari puisi ini
Berapa kali salatmu bolong hari ini?
Berapa hari sudah Quranmu kauabaikan?
Berapa lama waktu berlalu sejak terakhir kau sebut nama Dia?
Oh, tubuhmu bergerak gelisah
Tidak nyaman, ya?
Untunglah kau masih bisa merasa tidak nyaman
Mungkin hatimu tidak segelap yang kamu kira
(Kau mau berhenti?
Boleh saja, tak ada paksaan)
Omong-omong,
Jawabanmu tak perlu ditulis di kertas
Tidak akan ada yang menilainya kecuali kamu
Ini bukan ujian, kok.
Tarik nafasmu dalam-dalam sekali lagi
Biarkan saja air mata itu mengalir kalau perlu
Dimana kamu waktu Dia Memanggilmu sore tadi?
Dimana kamu waktu Dia Kirimkan malaikat subuh untuk membangunkanmu dari mimpi?
Dimana kamu waktu rumah-Nya--yang nyaris tak pernah lagi ramai--mengundangmu datang?
Oh, jangan kaututup matamu, sahabatku
Jangan kau kekap telingamu dengan kedua tangan itu
Mata dan telinga hatimu tetap bisa menjawabnya, bukan?
Buang nafas dalam yang kau tahan itu
Buang semuanya
Bayangkan semua dosamu terbuang oleh nafas itu
Hitung bersamaku...
Tahun-tahun yang sudah berlalu, biarlah sudah
Tetapi jangan biarkan tahun-tahun berikutnya berlalu begitu saja
Waktumu--waktuku , waktu kita--terbatas, kawan
Bumi ini sudah tak semuda yang kau bayangkan
Pejamkan matamu sekali lagi
Sekali lagi
Rasakan penyesalanmu saat ini membanjiri tubuhmu
Sampai ke ujung-ujung jarimu
Biarkan setiap inci tubuhmu mengenali dan mengingat penyesalan ini
Supaya mudah mereka memanggil kembali ingatan itu di masa depan
Pejamkan matamu, cobalah untuk rileks...
Bayangkan setiap tahap dalam hidupmu yang telah berhasil kau lalui
Setiap hal kecil yang mungkin belum kau syukuri
Bayangkan nikmatnya es krim cokelat, indahnya matahari terbit di pegunungan, harumnya aroma sabun Ibu yang kau sayangi
Kalikan kenikmatan itu dengan tak terhingga
Dan kau mungkin bisa dapatkan bayangan kecil nikmat surga-Nya
Masih ada waktu, sahabatku
(Semoga saja)
No comments:
Post a Comment