Pages

Sunday, 17 November 2013

Satu Musim Melupakanmu

Musim panas. Liburan. Perjalanan ceria ke pantai. Camping di gunung. Berenang di danau. Bermain dengan anak-anak di taman hiburan. Angin hangat nan sejuk. Tertidur di bawah pohon. Memetik bunga. Keceriaan.

Musim panas. Datangnya sinar matahari. Sirnanya kesedihan bagi sebagian orang. Kebahagiaan. Senyum tulus tak dipaksa. Tak lagi menyembunyikan perasaan.

Musim panas. Musim panas.

Musim panas juga berarti melupakanmu.
*
Di kala senja aku duduk di beranda kita. Matahari musim panas mulai lelah bersinar dan mulai menjatuhkan bayang-bayang panjang pada halaman kecil di belakang rumah kita. Terlihat jelas di mataku engkau duduk di kursi kayu kecil itu bersama bonsai-bonsaimu. Tanganmu cekatan memegang gunting tanaman, telaten mengurusi sahabat-sahabat kecilmu. Sesekali kauangkat punggung tangan tuk menyeka butir keringat di kening. Sesekali kau menunduk rapat pada dedaunan hijau-putih itu, lembut berbisik pada tiap-tiap helainya.

Saat itu, tidak ada yang lain dalam semestamu. Tidak perlu ada yang lain. Cukup engkau dan dua belas pot bonsai kerdilmu.

Dan matahari memudar.
Dan langit melembayung.
Dan bintang pertama membumbung.

Dan aku duduk sendiri. Termenung.
*

Siang hari musim panas. Udara lembab dan terik. Kau berdiam di jendela, membaca buku, majalah, koran—apa pun yang bisa kau temukan. Atau mengisi teka-teki silang. Atau memecahkan kode Sudoku. Lamat-lamat suara radio mengalun, memainkan musik indah dari tanah kelahiranmu. Musik yang tidak kumengerti, dalam bahasa yang tidak kupahami. Tetapi melodi itu adalah melodimu. Dan itu sudah cukup untuk membuatku cinta.

Tidak ada yang berubah di rumah kita. Sudut di jendela itu masih familiar denganmu. Masih menguarkan harum shampoo-mu. Buku-buku itu masih menumpuk di kaki kursi. Radio itu masih bertengger di kusen jendela. Tidak ada yang berubah. Kecuali ketiadaanmu.

Dan kuhabiskan siang hari musim panas tertidur di bawah jendelamu. Meski terik membanjiri seluruh tubuhku.
*

Titik balik matahari. Hari terpanjang sepanjang tahun.

Di tepi danau kita biasa duduk. Menggenggam tangan satu sama lain. Tanganmu lengket oleh keringat di tanganku. Tapi kita tidak pernah melepaskan. Sampai matahari akhirnya tergelincir, menandakan separuh musim telah berlalu. Dan kau tersenyum lebar, dari telinga ke telinga. Dan kau memelukku. Dan kita bertahan begitu sepanjang sore.

Titik balik matahari. Musim panas sudah akan berakhir.

Dan aku terus berharap engkau untuk datang dan pulang.
*

Musim gugur akan segera tiba.
Bonsai-bonsaimu akan mati tanpa kesabaranmu.
Buku-bukumu di jendela akan basah terkena percik hujan.

Dan aku akan melupakanmu.

***

No comments:

Post a Comment