Ada sebuah tempat yang selalu kuhindari. Apa pun yang terjadi, aku berusaha sekuat tenaga untuk lari dari tempat itu. Tempat konyol, tetapi nyata. Satu tempat berisi realita. Realitaku.
Tak berani aku berada di tempat itu terlalu lama. Setiap hari, selama beberapa saat, aku menggeret kakiku ke tempat itu. Lalu buru-buru lari keluar pada kesempatan pertama.
Kemana aku pergi? Kemana-mana. Kemana saja boleh, asal bukan realitaku. Aku berani berlama2 di realitamu. Selama mungkin selama kamu mengizinkan. Atau, ketika tidak ada orang lain yang membuka pintu realita mereka, aku lari ke realita tak nyata. Dunia fantasi. Semesta lain.
Ada kalanya aku merasa bersalah. Karena kabur dari tempat realitaku berada. Kabur dari masalah-masalahku. Lebih aman bermain di realita lain. Setidaknya disana aku tidak akan terluka. Tidak akan salah langkah.
Tetapi saat malam menjemput dan kantuk menyambut, aku kembali ke tempatku. Duduk dan menyesali kepengecutanku. Bertekad besok akan kuhadapi realitaku.
Besok selalu datang; aku tak pernah siap. Lalu sekali lagi, kakiku bergerak berlari dalam upaya menjauhi tempat ini. Tempat yang berisi realitaku.
No comments:
Post a Comment