Pages

Wednesday, 29 January 2014

Air

Kolam kecil di hadapanku
Koi-koi warna-warni
Air
Gemericik jatuh dari ketinggian

(Puisi ini jelek sekali)

Monday, 6 January 2014

Relaksasi

Selamat malam, sahabatku...
Duduklah tegak, jatuhkanlah kedua lenganmu di kedua sisi tubuhmu
Rasakanlah ikat-ikat ototmu mengendur
Rileks... lepaskan seluruh kelelahan fisik yang kamu rasa

Sekarang tariklah nafas dalam-dalam
Pelan-pelan
Hitunglah bersamaku
Satu, dua, tiga, empat...
Lalu hembuskan udara dari paru-parumu
Bayangkan titik-titik udara itu membawa pergi penatmu

Sudah enak?

Kau rasakan benakmu kosong
Kau rasakan hatimu tenang
Rasakanlah kejujuran menyesapi relung jiwamu
Hanya itu yang kauperlukan kali ini: kejujuranmu
Jujurlah ketika kau membaca lanjutan dari puisi ini

Berapa kali salatmu bolong hari ini?

Berapa hari sudah Quranmu kauabaikan?

Berapa lama waktu berlalu sejak terakhir kau sebut nama Dia?

Oh, tubuhmu bergerak gelisah
Tidak nyaman, ya?
Untunglah kau masih bisa merasa tidak nyaman
Mungkin hatimu tidak segelap yang kamu kira

(Kau mau berhenti?
Boleh saja, tak ada paksaan)

Omong-omong,
Jawabanmu tak perlu ditulis di kertas
Tidak akan ada yang menilainya kecuali kamu
Ini bukan ujian, kok.

Tarik nafasmu dalam-dalam sekali lagi
Biarkan saja air mata itu mengalir kalau perlu

Dimana kamu waktu Dia Memanggilmu sore tadi?

Dimana kamu waktu Dia Kirimkan malaikat subuh untuk membangunkanmu dari mimpi?

Dimana kamu waktu rumah-Nya--yang nyaris tak pernah lagi ramai--mengundangmu datang?

Oh, jangan kaututup matamu, sahabatku
Jangan kau kekap telingamu dengan kedua tangan itu
Mata dan telinga hatimu tetap bisa menjawabnya, bukan?

Buang nafas dalam yang kau tahan itu
Buang semuanya
Bayangkan semua dosamu terbuang oleh nafas itu
Hitung bersamaku...

Tahun-tahun yang sudah berlalu, biarlah sudah
Tetapi jangan biarkan tahun-tahun berikutnya berlalu begitu saja
Waktumu--waktuku , waktu kita--terbatas, kawan
Bumi ini sudah tak semuda yang kau bayangkan

Pejamkan matamu sekali lagi
Sekali lagi
Rasakan penyesalanmu saat ini membanjiri tubuhmu
Sampai ke ujung-ujung jarimu
Biarkan setiap inci tubuhmu mengenali dan mengingat penyesalan ini
Supaya mudah mereka memanggil kembali ingatan itu di masa depan

Pejamkan matamu, cobalah untuk rileks...
Bayangkan setiap tahap dalam hidupmu yang telah berhasil kau lalui
Setiap hal kecil yang mungkin belum kau syukuri
Bayangkan nikmatnya es krim cokelat, indahnya matahari terbit di pegunungan, harumnya aroma sabun Ibu yang kau sayangi
Kalikan kenikmatan itu dengan tak terhingga
Dan kau mungkin bisa dapatkan bayangan kecil nikmat surga-Nya

Masih ada waktu, sahabatku
(Semoga saja)

Friday, 3 January 2014

Teori Bawang

“Orang dewasa itu mirip bawang,” katamu suatu sore ketika kau dan aku sedang duduk di kedai kopi dengan buku-buku bertebaran di meja kita. Aku tidak terusik, terlalu asyik menulis-nulis puisi baru di selembar tisu.

“Aku bilang, orang dewasa itu mirip bawang. Iya kan?” ulangmu sekali lagi.

“Hm?”

Kau menendang tulang keringku di bawah meja.

“Aduh!”

“Kalau orang ngomong dengerin, dong!” tegurmu, bete.

Aku mengelus-elus kaki yang kautendang. Menjulurkan lidah dan membuat wajah meledek. Kau dan temperamenmu itu! Matamu masih memelototiku. Aku mendesah. Yah... mari kita dengarkan teori yang baru kaubentuk di kepalamu...

“Iya, aku dengerin,” sahutku. “Bawang kenapa?”

Dadamu mengembang saat kau menarik nafas dalam. Lalu kau memulai retorikamu.

“Kamu tahu bawang kan?” tanyamu retoris.

“Bulat, bau, merah, putih, hijau kan?” aku buru-buru menjawab—walau aku paham esensi dari retorika adalah tidak perlu dijawab.

“Tepat. Tapi kurang satu lagi.”

“Apa? Bawang bombay?”

“Bukan! Satu karakteristik lagi dari bawang yang belum kamu sebut.”

“Apa sih? Rasanya nggak enak?”

Kamu kelihatan sebal. Dalam hati aku cekikik geli.

“Lapisannya! Bawang punya banyak lapisan kan? Tipis-tipis dan hampir nggak bisa dibedakan lapisan satu dengan lapisan di bawahnya?” kamu berseru bersemangat.

Aku mengangguk-angguk sotoy.

“Nah, orang dewasa itu persis seperti itu. Berlapis. Lapisan di atasnya hampir nggak bisa dibedakan, tapi lapisan luar dan lapisan dalam jelas berbeda. Ngerti kau?” jelasmu sok pintar. Aku mengangguk-angguk lagi.

“Orang dewasa itu, apa yang kelihatan di luar beda dari yang di dalam. Makin kamu berusaha kenal seseorang, makin kamu sadar bahwa ada banyak hal yang dia sembunyikan di dalam.”

“Oke, cukup masuk akal,” jawabku. Kau diam saja beberapa saat, seperti yang selalu kau lakukan kalau ingin sesuatu masuk menembus tengkorakku yang katamu lebih tebal dari tembok beton
.
“Kau tahu apa yang paling menyebalkan dari bawang?” tanyamu sementara kepalaku masih setengah memroses ocehanmu sebelumnya.

“Hm?”

“Saat mengupas bawang, mata dan hidungmu akan terasa perih sampai kau menangis. Semakin lama kau mengupas, makin perih juga rasanya. Bayangkan kalau manusia itu bawang. Semakin lama kau mengupas orang itu, semakin perih juga rasanya,” jelasmu lagi.

“Terus?”

Ngerti kan? Dengan kata lain, kalau kamu ingin mengenal seseorang—benar-benar mengenalnya—kamu harus siap-siap terluka,” kau mengakhiri pidatomu dengan nada final yang dramatis.

Selama dua menit penuh kita duduk diam, masing-masing terhanyut dalam pikiran sendiri. Kau menatap langit yang membiru cerah di balik jendela kedai kopi kecil itu. Kurasa teorimu itu tidak sempurna. Masih banyak lubang di jahitannya. Tetapi seperti biasa, aku bisu saja, demi keutuhan ujung-ujung jariku.

Kau kembali menekuni buku matematikamu. Aku membaca ulang puisi setengah jadi yang kucoretkan di tisu. Puisi yang jelek. Dengan segera selembar tisu itu berubah menjadi segumpal bola putih yang permukaannya tidak rata.

“Tahu nggak?” ujarku sejurus kemudian, mengambil ancang-ancang untuk melempar bola tisu itu ke hidungmu.

“Apa?”

“Daripada dikupas, lebih baik kau cincang saja bawangnya. Pakai pisau.”

Dan bola tisu jelek itu membentur tepat di antara kedua matamu.
***

Diselesaikan di Menteng, Jakarta, 3 Januari 2014 pukul 20:16.