Pages

Monday, 5 August 2013

A Night To Remember

Jakarta, 20 Juli 2013

Akhirnya. Hari yang sudah kunantikan—kuimpikan, lebih tepatnya—sejak tahun 2006 datang juga. Klub dengan sejarah terkeren sedunia, Liverpool FC, mendatangi Jakarta sebagai bagian dari tur Asia mereka. Allah swt akhirnya mengabulkan doa tujuh tahun silam. Livepool datang ke Indonesia! Steven Gerrard cs akan menginjak tanah yang sama dengan yang kuinjak! Bayangkan perasaan bahagiaku ketika Liverpool mengumumkan jadwal tur mereka bulan Mei lalu… dan bayangkan bagaimana perasaanku ketika hari pertandingan akhirnya datang!

[Sudah dibayangkan?]

Baiklah, maafkan paragraf pertama yang penuh kelebayan itu. Maafkan pula paragraf-paragraf berikutnya yang bakal penuh kelebayan sepanjang tulisan berikut. I can’t help it!

Pra-GBK
Sabtu itu, pukul 1.30, aku mengejar-ngejar Dara adikku untuk segera mandi dan bersiap-siap, sebab aku janjian dengan temanku Dwi (waktu SMP dulu kami mendeklarasikan diri sebagai istri-istrinya Gerrard. Jangan tanya. Haha) jam 2.30 di halte Busway. Beberapa menit lewat jam 2, Dara dan aku siap berangkat, dengan jersey merah Liverpool melekat bangga di badan kami. Kami baru tiba di halte Busway jam 3, tetapi sebagai orang yang besar di Jakarta, terlambat setengah jam sama saja dengan tepat waktu, karena toh Dwi juga baru sampai beberapa saat setelah kami.

Sepanjang perjalanan, aku sudah merasa excited. Dwi justru khawatir nyasar. Aku santai saja. Kubilang padanya, “Tenang aja, tinggal ikuti aliran orang-orang berbaju merah.” Memang benar, sesampainya di Halte Dukuh Atas kami bertemu rombongan orang berseragam merah. Makin lama makin banyak. Ketika kami tiba di Halte GBK, 100% pengguna busway yang turun mengenakan jersey Liverpool!

Suasana Liverpool makin terasa sepanjang jalan dari jembatan busway sampai ke area GBK, berkat jejeran pedagang kaki lima yang mengambil kesempatan dari suasana ramai ini. Alhamdulillah, kedatangan Liverpool bisa memberikan rezeki pada mereka. Para PKL ini menjual pernak-pernik Liverpool (ada juga sih yang mabok dan menjual topi biru Chelsea FC). Banyak sekali yang dijual, mulai dari syal, topi-topi lucu, terompet murahan, sampai jersey Liverpool dari berbagai musim, termasuk favoritku dari tahun 1992.

Meski tergoda untuk melihat-lihat, kami memutuskan untuk langsung ke Masjid Al-Bina untuk shalat Ashar. Masjid sudah penuh dengan jamaah berpakaian merah. Kalau biasanya kita melihat jamaah shalat berpakaian putih baju koko, hari ini baru kulihat puluhan jamaah dengan liverbird di dada mereka ruku dan sujud dalam gerakan serentak. Persatuan memang indah, ya…

Setelah shalat, hujan mulai turun. Deras, lengkap dengan kilat dan halilintar. Kami terjebak di kios kecil di depan masjid. Mudah-mudahan hujan ini pertanda Allah memberkahi laga nanti malam.

Setengah jam kemudian, kami mulai bosan menunggu, dan akhirnya nekat untuk menembus gerimis mendekati area stadion. Beberapa kali di tengah jalan hujan menderas. Tak pelak lagi, kami basah, sampai-sampai Dwi mengeluh pusing kemudian. Kami bergabung dengan Kak Gerry dan Kak Allam di dekat sektor VII—keduanya adalah senior Dwi di kampus—dan menunggu dibukanya gerbang masuk stadion. Meski baru pertama ketemu, kami bisa langsung asyik mengobrol. Tentu saja tentang Liverpool!
Suasana ramai saat menunggu di area stadion. I looked uber cool in red!
Area sekitar stadion makin lama makin ramai. Yel-yel dan nyanyian tak hentinya dikumandangkan oleh pasukan BigReds Indonesia yang berkumpul tak jauh dari tempat kami berdiri. Paguyuban suporter dari berbagai daerah ngeriung dan berfoto bersama. Ada LFC Pekanbaru, LFC Surabaya, LFC Medan, dan lain. Hmm, mungkin sudah saatnya kita bikin LFC Pasar Minggu, biar keren B-)

Ada juga fans yang berpenampilan ‘unik’. Ada mas-mas yang memakai topeng wajah Jordan Henderson plus kacamata hitam. Ada bapak-bapak nyentrik yang datang dengan celana piyama perca. Ada yang wajahnya dicat merah-putih. Seru! Sayang aku nggak sempat motoin...

Lagi asyik memperhatikan orang-orang, tiba-tiba ada yang menegurku. Akang-akang berlogat Sunda kental mengajak foto bareng! Wuidiiii, langsung berasa artis gue. Momen-momen kayak gini nih yang bikin saya bersyukur banget jadi fans Liverpool. Liverpool FC sudah seperti keluarga besar. Membawa orang-orang yang tadinya asing menjadi tidak asing. Yang gak kenal jadi kenal J

Dadakan jadi LFC Sumedang. "We Are Not English, We Are Scouse...medang!"
Antrian panjang nan menyesakkan
Sampailah kita ke bagian yang paling aku cemaskan: antrian masuk gerbang stadion. Orang Indonesia dari dulu sudah terkenal sulit mengantri, dan yang ini tidak terkecuali. Panas, gerah, dan minim oksigen membuat Dwi pusing, sementara aku terus-menerus takut terpisah dari yang lain. Untungnya, di sebelah kami ada rombongan LFC Medan yang tak hentinya melawak dalam logat Batak! Mayan buat hiburan.

Tetapi makin lama semua orang makin hilang sabarnya. Setelah hampir satu jam mengantri, Abang Batak bertubuh tambun di dekatku mulai berteriak-teriak, “Woy! Jangan difoto! Kami disini kegerahan, bukan dibantu malah difoto!” Tapi pada akhirnya aku harus berterima kasih sama Abang Batak ini, soalnya tak lama kemudian si Abang meneriaki panitia, “Kasian ini ada perempuan dan anak kecil! Buka jalan dong!” Alhamdulillah masih banyak lelaki gentlemen yang mau membuka jalan.

At last! Masuk GBK!

That Thrilling Moment
Desas-desus bilang stadion sebesar Gelora Bung Karno memiliki magis tertentu. Aku sih dulu iya-iya saja, tetapi seseorang baru benar-benar bisa menyadari magis itu kalau sudah mengalami secara personal. Aku merasakan sendiri sihir itu, ketika semburat lampu-lampu raksasa dari dalam stadion menyusupi kegelapan lorong. Mengingatkanku pada lirik You’ll Never Walk Alone, “At the end of the storm, there’s a golden sky…”

Ah… andai bisa kugambarkan dengan kata-kata bagaimana persisnya rasa thrilling itu memenuhi dadaku. Rasakan sendiri, deh! Jantung berdegup kencang, yel-yel makin keras memenuhi telinga, dan semua lelah dari antrian panjang tadi langsung terlupakan. I was super excited!

Of Banners and Chants
Inilah dua hal yang tidak pernah bisa lepas dari kehidupan suporter sejati: banners dan chants. Aku beruntung dapat duduk di tribun yang sama dengan ribuan anak BigReds Indonesia. Tribun kamilah yang paling ramai dengan spanduk dan bendera! Spanduk-spanduk mejeng di dinding tribun. Poster yang ukurannya lebih kecil diangkat tinggi-tinggi. Bendera-bendera berukuran besar dikibarkan terus menerus. Keren banget!

Ada banner klasik macam “We Won It Five Times”, berbagai Shankly quotes, dan “You’ll Never Walk Alone.” Ada juga banner-banner yang bawa-bawa nama paguyubannya. Yang paling menarik menurutku adalah banner bertuliskan “We are not English, We are Scouse….roboyo.” Aku dan Dwi ketawa sampai habis nafas ngeliatnya.
Salah satu banner yang SUPER KEREN!
Kami juga membuat mosaik bertuliskan JFT96. Aku baru pertama kali bikin konfigurasi raksasa macam ini, ternyata prosesnya cukup sulit! Pihak BigReds ada yang masuk duluan sebelum gerbang dibuka untuk memasang tali-tali pembatas, lalu mereka harus membagikan kertas warna-warni sesuai dengan batasnya, baru setelah itu harus mengkoordinasikan ribuan suporter lainnya untuk bikin konfigurasi yang cakep. Ini nih hasilnya...
Aku duduk tepat di lubangnya angka 9
Bendera-benderanya juga menarik banget. Ada lebih dari sepuluh bendera besar di tribun kami. Bendera-bendera itu berlukiskan wajah pemain legendaris seperti Jamie Carragher dan Steven Gerrard. Tetapi ada satu banner yang berlukiskan wajah perempuan. Perempuan itu adalah Anne Williams, seorang ibu yang anaknya meninggal 23 tahun lalu di Tragedi Hillsborough. Sepanjang hidupnya Anne tidak pernah berhenti memperjuangkan keadilan untuk anaknya dan korban Hillsborough lainnya. Anne meninggal beberapa saat lalu akibat kanker, tetapi perjuangannya membekas di hati semua suporter dan pihak klub.

Desain bendera Anne Williams ini dibuat oleh Dian Qamajaya, pemuda asal Jogja yang resmi dipekerjakan Liverpool sebagai desainer grafis setelah karyanya selalu di-retweet oleh para pemain. Desain ini brilian! Lihat tulisan The Iron Lady di bawahnya? Itu mengejek Margaret Thatcher, yang 23 tahun lalu bersikeras bahwa korban Hillsborough meninggal karena kesalahan mereka sendiri. Thatcher bukan sosok favorit di kota Liverpool; bagi kami Anne lebih pantas diberi gelar Iron Lady. Oiya, desain ini juga sudah resmi diminta klub untuk dipasang di Inggris sana.
RIP Anne Williams, the true Iron Lady
Nggak cuma ramai bendera, stadion GBK hari itu juga ramai nyanyian lagu penyemangat Liverpool. The entire Anfield Songbook was sung that very night. Mulai dari You’ll Never Walk Alone, Fields of The Anfield Road, We Won It Five Times, When The Reds Go Marching In, sampai lagu pemain individu dinyanyikan! Favoritku Glory Around The Anfield Road, bahkan sampai sekarang aku masih kebawa-bawa nyanyi lagu itu.

Dan memang dari jauh-jauh hari sebelumnya kita para suporter sudah kompakan, setuju untuk membuang jauh-jauh terompet murahan dan menyanyi sekuat-kuatnya. Makanya setiap kali ada suara terompet bunyi, langsung disambut dengan sorakan dan nyanyian “Buang Terompetnya Sekarang.”

Makanya tidak heran kalau suaraku serak sepulang dari sana, soalnya kita nyanyi sejak 1,5 jam sebelum kick-off sampai setengah jam setelah bubar!
Rombongan kami minus Dara dan Kak Numut (kakaknya Dwi)
Besties: Steven Gerrard brought us together!
Gerrard, Gerrard, Ambil Pojoknya, dong!
Kelemahan satu-satunya dari menonton langsung di stadion adalah tidak bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di lapangan, dan tidak ada replay. Dari 2 gol yang dicetak Liverpool, aku sama sekali tidak ingat bagaimana terjadinya, bahkan siapa yang nge-gol-in pun aku harus nanya ke tetangga sebelah. Betul-betul nggak kelihatan! Tahu-tahu sudah gol saja.

Gol pertama dicetak Philipe Coutinho, bocah Brazil yang kakinya licin banget kalau sudah bawa bola. Cou selebrasi dengan melewati papan pembatas lapangan dan berlari ke arah suporter. Entah emang niat selebrasi demikian entah cuma keterusan lari dan gagal berhenti. Gol kedua, sayangnya, dicetak di gawang yang berlawanan dari tempatku duduk. Nggak kelihatan apa-apa. Aku bahkan baru tahu Sterling yang mencetak gol itu besok harinya.
Kedua pencetak gol: Raheem Sterling (18 th) dan Philippe Coutinho (21 th). The  future is bright!
Tetapi nggak ada yang lebih kami harapkan daripada sepakan pojok. Lantaran, tribun kami dekat sekali dengan titik sudut lapangan. Sepanjang babak pertama, setiap kali Liverpool dapat sepak pojok, kami akan langsung rebut teriak, “Gerrard, Gerrard, ambil pojoknya, dong!”

Melihat Gerrard bermain langsung di depan mata memang pengalaman tersendiri. Dilihat dari layar kaca saja sudah jelas kehebatannya, apalagi lihat secara langsung. Sekali waktu Gerrard memberi umpan silang jauh ke depan, dan aku serentak geleng-geleng kepala. “Emang ini pemain world-class, berasa banget jagonya!” Aura kaptennya juga terasa banget. Betul-betul, deh. Steven Gerrard luar biasa!

Selain Gerrard dan Coutinho, pemain yang kuperhatikan dengan seksama adalah si kiper baru, Simon Mignolet. Kiper asal Belgia ini ternyata badannya tinggi-besar ya, dan beberapa kali penyelamatannya akrobatik sekali. Mantaplah.

Sepanjang pertandingan yang 90 menit itu, aku terhanyut dalam serunya sepak bola. Tidak berhenti nyanyi, melambaikan syal, dan menyerukan nama pemain. Bagian yang paling kusuka adalah menyanyikan lagu You’ll Never Walk Alone di akhir pertandingan sambil membentangkan syal. Merinding banget. Atmosfernya Liverpool banget. Dalam semalam, suporter LFC berhasil menyulap GBK menjadi Anfield.

Sampai Jumpa, InsyaAllah Ketemu Lagi!
Setelah pertandingan berakhir, ada semacam prosesi penyerahan medali dan piala. Aku tidak begitu mengikuti karena tidak kelihatan jelas. Tetapi belum ada satu pun suporter yang beranjak dari tempat duduk mereka. Semua menunggu tim Liverpool melakukan lap of honor, yaitu tim mengelilingi seluruh lapangan untuk memberi salut pada kami suporter. 

Setelah cukup restless, akhirnya Gerrard mulai memimpin rekan-rekannya mengitari lapangan, berhenti sejenak di tiap pojok dan bertepuk tangan sebagai tanda terima kasih pada fans. Mungkin terlihat tidak penting, tetapi bagi fans, ini adalah hal yang besar. Mengetahui bahwa pemain mengakui keberadaan kami dan menghargai kami… that’s the true Liverpool Way.
Suasana waktu lap of honour. Thank you for coming, Liverpool!
Foto bersama Indonesia XI dan tim Liverpool
Aku pulang dengan perasaan sangat puas. Sudah hampir tengah malam, Alhamdulillah Kak Gerry bersedia memberi tumpangan sampai rumah. All in all, 20 Juli 2013 adalah malam yang akan sangat sulit dilupakan. Liverpool memang sudah balik ke Inggris sekarang, tetapi kenangan malam itu akan selalu aku ingat, sampai sedetail-detailnya.


Sampai jumpa Liverpool, insya Allah kita akan ketemu lagi, kali ini di Stadion Anfield! 
Someday, Insya Allah :)

No comments:

Post a Comment