Jakarta,
20 Juli 2013
Akhirnya.
Hari yang sudah kunantikan—kuimpikan, lebih tepatnya—sejak tahun 2006 datang
juga. Klub dengan sejarah terkeren sedunia, Liverpool FC, mendatangi Jakarta
sebagai bagian dari tur Asia mereka. Allah swt akhirnya mengabulkan doa tujuh
tahun silam. Livepool datang ke Indonesia! Steven Gerrard cs akan menginjak
tanah yang sama dengan yang kuinjak! Bayangkan perasaan bahagiaku ketika
Liverpool mengumumkan jadwal tur mereka bulan Mei lalu… dan bayangkan bagaimana
perasaanku ketika hari pertandingan akhirnya datang!
[Sudah
dibayangkan?]
Baiklah,
maafkan paragraf pertama yang penuh kelebayan itu. Maafkan pula
paragraf-paragraf berikutnya yang bakal
penuh kelebayan sepanjang tulisan berikut. I can’t help it!
Pra-GBK
Sabtu
itu, pukul 1.30, aku mengejar-ngejar Dara adikku untuk segera mandi dan
bersiap-siap, sebab aku janjian dengan temanku Dwi (waktu SMP dulu kami
mendeklarasikan diri sebagai istri-istrinya Gerrard. Jangan tanya. Haha) jam
2.30 di halte Busway. Beberapa menit lewat jam 2, Dara dan aku siap berangkat,
dengan jersey merah Liverpool melekat
bangga di badan kami. Kami baru tiba di halte Busway jam 3, tetapi sebagai
orang yang besar di Jakarta, terlambat setengah jam sama saja dengan tepat
waktu, karena toh Dwi juga baru sampai beberapa saat setelah kami.
Sepanjang
perjalanan, aku sudah merasa excited.
Dwi justru khawatir nyasar. Aku santai saja. Kubilang padanya, “Tenang aja,
tinggal ikuti aliran orang-orang berbaju merah.” Memang benar, sesampainya di
Halte Dukuh Atas kami bertemu rombongan orang berseragam merah. Makin lama
makin banyak. Ketika kami tiba di Halte GBK, 100% pengguna busway yang turun
mengenakan jersey Liverpool!
Suasana
Liverpool makin terasa sepanjang jalan dari jembatan busway sampai ke area GBK,
berkat jejeran pedagang kaki lima yang mengambil kesempatan dari suasana ramai
ini. Alhamdulillah, kedatangan Liverpool bisa memberikan rezeki pada mereka. Para
PKL ini menjual pernak-pernik Liverpool (ada juga sih yang mabok dan menjual
topi biru Chelsea FC). Banyak sekali yang dijual, mulai dari syal, topi-topi
lucu, terompet murahan, sampai jersey Liverpool dari berbagai musim, termasuk favoritku
dari tahun 1992.
Meski
tergoda untuk melihat-lihat, kami memutuskan untuk langsung ke Masjid Al-Bina
untuk shalat Ashar. Masjid sudah penuh dengan jamaah berpakaian merah. Kalau
biasanya kita melihat jamaah shalat berpakaian putih baju koko, hari ini baru
kulihat puluhan jamaah dengan liverbird
di dada mereka ruku dan sujud dalam gerakan serentak. Persatuan memang indah,
ya…
Setelah
shalat, hujan mulai turun. Deras, lengkap dengan kilat dan halilintar. Kami
terjebak di kios kecil di depan masjid. Mudah-mudahan hujan ini pertanda Allah
memberkahi laga nanti malam.
Setengah
jam kemudian, kami mulai bosan menunggu, dan akhirnya nekat untuk menembus
gerimis mendekati area stadion. Beberapa kali di tengah jalan hujan menderas.
Tak pelak lagi, kami basah, sampai-sampai Dwi mengeluh pusing kemudian. Kami
bergabung dengan Kak Gerry dan Kak Allam di dekat sektor VII—keduanya adalah
senior Dwi di kampus—dan menunggu dibukanya gerbang masuk stadion. Meski baru pertama ketemu, kami bisa langsung asyik
mengobrol. Tentu saja tentang Liverpool!
![]() |
| Suasana ramai saat menunggu di area stadion. I looked uber cool in red! |
Area
sekitar stadion makin lama makin ramai. Yel-yel dan nyanyian tak hentinya
dikumandangkan oleh pasukan BigReds Indonesia yang berkumpul tak jauh dari
tempat kami berdiri. Paguyuban suporter dari
berbagai daerah ngeriung dan berfoto bersama. Ada LFC Pekanbaru, LFC Surabaya,
LFC Medan, dan lain. Hmm, mungkin sudah saatnya kita bikin LFC Pasar Minggu, biar keren B-)
Ada
juga fans yang berpenampilan ‘unik’. Ada mas-mas yang memakai topeng wajah
Jordan Henderson plus kacamata hitam. Ada bapak-bapak nyentrik yang datang
dengan celana piyama perca. Ada yang wajahnya dicat merah-putih. Seru! Sayang
aku nggak sempat motoin...
Lagi
asyik memperhatikan orang-orang, tiba-tiba ada yang menegurku. Akang-akang
berlogat Sunda kental mengajak foto bareng! Wuidiiii, langsung berasa artis
gue. Momen-momen kayak gini nih yang bikin saya bersyukur banget jadi fans
Liverpool. Liverpool FC sudah seperti keluarga besar. Membawa orang-orang yang
tadinya asing menjadi tidak asing. Yang gak kenal jadi kenal J
![]() |
| Dadakan jadi LFC Sumedang. "We Are Not English, We Are Scouse...medang!" |
Antrian panjang nan menyesakkan
Sampailah
kita ke bagian yang paling aku cemaskan: antrian masuk gerbang stadion. Orang
Indonesia dari dulu sudah terkenal sulit mengantri, dan yang ini tidak
terkecuali. Panas, gerah, dan minim oksigen membuat Dwi pusing, sementara aku
terus-menerus takut terpisah dari yang lain. Untungnya, di sebelah kami ada
rombongan LFC Medan yang tak hentinya melawak dalam logat Batak! Mayan buat
hiburan.
Tetapi
makin lama semua orang makin hilang sabarnya. Setelah hampir satu jam
mengantri, Abang Batak bertubuh tambun di dekatku mulai berteriak-teriak, “Woy!
Jangan difoto! Kami disini kegerahan, bukan dibantu malah difoto!” Tapi pada
akhirnya aku harus berterima kasih sama Abang Batak ini, soalnya tak lama kemudian
si Abang meneriaki panitia, “Kasian ini ada perempuan dan anak kecil! Buka
jalan dong!” Alhamdulillah masih banyak lelaki gentlemen yang mau membuka jalan.
At
last! Masuk GBK!
That Thrilling Moment
Desas-desus
bilang stadion sebesar Gelora Bung Karno memiliki magis tertentu. Aku sih dulu
iya-iya saja, tetapi seseorang baru benar-benar bisa menyadari magis itu kalau
sudah mengalami secara personal. Aku merasakan sendiri sihir itu, ketika
semburat lampu-lampu raksasa dari dalam stadion menyusupi kegelapan lorong.
Mengingatkanku pada lirik You’ll Never Walk Alone, “At the end of the storm,
there’s a golden sky…”
Ah…
andai bisa kugambarkan dengan kata-kata bagaimana persisnya rasa thrilling itu memenuhi dadaku. Rasakan
sendiri, deh! Jantung berdegup kencang, yel-yel makin keras memenuhi telinga,
dan semua lelah dari antrian panjang tadi langsung terlupakan. I was super
excited!
Of Banners and Chants
Inilah
dua hal yang tidak pernah bisa lepas dari kehidupan suporter sejati: banners dan chants. Aku beruntung dapat duduk di tribun yang sama dengan ribuan
anak BigReds Indonesia. Tribun kamilah yang paling ramai dengan spanduk dan
bendera! Spanduk-spanduk mejeng di dinding tribun. Poster yang ukurannya lebih
kecil diangkat tinggi-tinggi. Bendera-bendera berukuran besar dikibarkan terus
menerus. Keren banget!
Ada
banner klasik macam “We Won It Five Times”, berbagai Shankly quotes, dan “You’ll Never Walk Alone.” Ada juga
banner-banner yang bawa-bawa nama paguyubannya. Yang paling menarik menurutku
adalah banner bertuliskan “We are not English, We are Scouse….roboyo.” Aku dan
Dwi ketawa sampai habis nafas ngeliatnya.
![]() |
| Salah satu banner yang SUPER KEREN! |
Kami juga membuat mosaik bertuliskan JFT96. Aku baru pertama kali bikin konfigurasi raksasa macam ini, ternyata prosesnya cukup sulit! Pihak BigReds ada yang masuk duluan sebelum gerbang dibuka untuk memasang tali-tali pembatas, lalu mereka harus membagikan kertas warna-warni sesuai dengan batasnya, baru setelah itu harus mengkoordinasikan ribuan suporter lainnya untuk bikin konfigurasi yang cakep. Ini nih hasilnya...
![]() |
| Aku duduk tepat di lubangnya angka 9 |
Bendera-benderanya
juga menarik banget. Ada lebih dari sepuluh bendera besar di tribun kami.
Bendera-bendera itu berlukiskan wajah pemain legendaris seperti Jamie Carragher
dan Steven Gerrard. Tetapi ada satu banner yang berlukiskan wajah perempuan.
Perempuan itu adalah Anne Williams, seorang ibu yang anaknya meninggal 23 tahun
lalu di Tragedi Hillsborough. Sepanjang hidupnya Anne tidak pernah berhenti
memperjuangkan keadilan untuk anaknya dan korban Hillsborough lainnya. Anne
meninggal beberapa saat lalu akibat kanker, tetapi perjuangannya membekas di
hati semua suporter dan pihak klub.
Desain
bendera Anne Williams ini dibuat oleh Dian Qamajaya, pemuda asal Jogja yang
resmi dipekerjakan Liverpool sebagai desainer grafis setelah karyanya selalu
di-retweet oleh para pemain. Desain ini brilian! Lihat tulisan The Iron Lady di
bawahnya? Itu mengejek Margaret Thatcher, yang 23 tahun lalu bersikeras bahwa
korban Hillsborough meninggal karena kesalahan mereka sendiri. Thatcher bukan
sosok favorit di kota Liverpool; bagi kami Anne lebih pantas diberi gelar Iron
Lady. Oiya, desain ini juga sudah resmi diminta klub untuk dipasang di Inggris
sana.
![]() |
| RIP Anne Williams, the true Iron Lady |
Nggak
cuma ramai bendera, stadion GBK hari itu juga ramai nyanyian lagu penyemangat
Liverpool. The entire Anfield Songbook was sung that very night. Mulai dari
You’ll Never Walk Alone, Fields of The Anfield Road, We Won It Five Times,
When The Reds Go Marching In, sampai lagu pemain individu dinyanyikan!
Favoritku Glory Around The Anfield Road, bahkan sampai sekarang aku masih
kebawa-bawa nyanyi lagu itu.
Dan
memang dari jauh-jauh hari sebelumnya kita para suporter sudah kompakan, setuju
untuk membuang jauh-jauh terompet murahan dan menyanyi sekuat-kuatnya. Makanya
setiap kali ada suara terompet bunyi, langsung disambut dengan sorakan dan
nyanyian “Buang Terompetnya Sekarang.”
Makanya
tidak heran kalau suaraku serak sepulang dari sana, soalnya kita nyanyi sejak
1,5 jam sebelum kick-off sampai setengah jam setelah bubar!
![]() |
| Rombongan kami minus Dara dan Kak Numut (kakaknya Dwi) |
![]() |
| Besties: Steven Gerrard brought us together! |
Gerrard, Gerrard, Ambil Pojoknya, dong!
Kelemahan
satu-satunya dari menonton langsung di stadion adalah tidak bisa melihat dengan
jelas apa yang terjadi di lapangan, dan tidak ada replay. Dari 2 gol yang dicetak Liverpool, aku sama sekali tidak
ingat bagaimana terjadinya, bahkan siapa yang nge-gol-in pun aku harus nanya ke
tetangga sebelah. Betul-betul nggak kelihatan! Tahu-tahu sudah gol saja.
Gol
pertama dicetak Philipe Coutinho, bocah Brazil yang kakinya licin banget kalau
sudah bawa bola. Cou selebrasi dengan melewati papan pembatas lapangan dan
berlari ke arah suporter. Entah emang niat selebrasi demikian entah cuma
keterusan lari dan gagal berhenti. Gol kedua, sayangnya, dicetak di gawang yang
berlawanan dari tempatku duduk. Nggak kelihatan apa-apa. Aku bahkan baru tahu
Sterling yang mencetak gol itu besok harinya.
![]() |
| Kedua pencetak gol: Raheem Sterling (18 th) dan Philippe Coutinho (21 th). The future is bright! |
Tetapi
nggak ada yang lebih kami harapkan daripada sepakan pojok. Lantaran, tribun
kami dekat sekali dengan titik sudut lapangan. Sepanjang babak pertama, setiap
kali Liverpool dapat sepak pojok, kami akan langsung rebut teriak, “Gerrard,
Gerrard, ambil pojoknya, dong!”
Melihat
Gerrard bermain langsung di depan mata memang pengalaman tersendiri. Dilihat
dari layar kaca saja sudah jelas kehebatannya, apalagi lihat secara langsung.
Sekali waktu Gerrard memberi umpan silang jauh ke depan, dan aku serentak
geleng-geleng kepala. “Emang ini pemain world-class, berasa banget jagonya!” Aura
kaptennya juga terasa banget. Betul-betul, deh. Steven Gerrard luar biasa!
Selain
Gerrard dan Coutinho, pemain yang kuperhatikan dengan seksama adalah si kiper
baru, Simon Mignolet. Kiper asal Belgia ini ternyata badannya tinggi-besar ya,
dan beberapa kali penyelamatannya akrobatik sekali. Mantaplah.
Sepanjang
pertandingan yang 90 menit itu, aku terhanyut dalam serunya sepak bola. Tidak
berhenti nyanyi, melambaikan syal, dan menyerukan nama pemain. Bagian yang
paling kusuka adalah menyanyikan lagu You’ll Never Walk Alone di akhir
pertandingan sambil membentangkan syal. Merinding banget. Atmosfernya Liverpool
banget. Dalam semalam, suporter LFC berhasil menyulap GBK menjadi Anfield.
Sampai Jumpa, InsyaAllah Ketemu Lagi!
Setelah
pertandingan berakhir, ada semacam prosesi penyerahan medali dan piala. Aku
tidak begitu mengikuti karena tidak kelihatan jelas. Tetapi belum ada satu pun
suporter yang beranjak dari tempat duduk mereka. Semua menunggu tim Liverpool
melakukan lap of honor, yaitu tim mengelilingi seluruh lapangan untuk memberi
salut pada kami suporter.
Setelah cukup restless,
akhirnya Gerrard mulai memimpin rekan-rekannya mengitari lapangan, berhenti
sejenak di tiap pojok dan bertepuk tangan sebagai tanda terima kasih pada fans.
Mungkin terlihat tidak penting, tetapi bagi fans, ini adalah hal yang besar.
Mengetahui bahwa pemain mengakui keberadaan kami dan menghargai kami… that’s
the true Liverpool Way.
![]() |
| Suasana waktu lap of honour. Thank you for coming, Liverpool! |
![]() |
| Foto bersama Indonesia XI dan tim Liverpool |
Aku
pulang dengan perasaan sangat puas. Sudah hampir tengah malam, Alhamdulillah
Kak Gerry bersedia memberi tumpangan sampai rumah. All in all, 20 Juli 2013
adalah malam yang akan sangat sulit dilupakan. Liverpool memang sudah balik ke
Inggris sekarang, tetapi kenangan malam itu akan selalu aku ingat, sampai
sedetail-detailnya.
Sampai
jumpa Liverpool, insya Allah kita akan ketemu lagi, kali ini di Stadion
Anfield!
![]() |
| Someday, Insya Allah :) |











No comments:
Post a Comment